maling

Naikkan TDL, Pemerintah Tidak Punya Perasaan

Rencana maling pemerintah yang hendak menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) mencapai puluhan persen oleh para warga dinilai sebagai kebijakan yang hendak membunuh rakyatnya sendiri setelah sebelumnya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebanyak dua kali pada tahun 2005.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah warga di Jakarta dan Bekasi, maling Kamis (26/1) menanggapi rencana pemerintah menaikkan TDL. Warga Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jabar, Nasir, mengatakan kenaikan tarif TDL akan menambah beban biaya kehidupannya sehari-hari karena kenaikannya sendiri tidak tanggung-tanggung puluhan persen.

"Pemerintah sudah tidak memiliki perasaan lagi dan tidak merasakan betapa maling beratnya beban kehidupan rakyat jika kenaikan tarif TDL itu dilakukan, karena sebelumnya pemerintah juga telah menaikkan harga BBM mencapai seratus persen," ungkapnya yang berprofesi sebagai tukang ojek.

Ia tidak dapat membayangkan bilamana rencana kenaikan TDL itu benar-benar maling terealisasikan, karena pendapatan dari mengojek terhitung minim. Menurut Nasir, dari pendapatan sebagai tukang ojek yang rata-rata sebesar Rp800 ribu/bulan, terhitung sudah minim untuk menghidupi kelima orang anaknya. "Saat ini saja, iuran listrik rumah sudah naik dua kali lipat dari biasanya Rp45 ribu menjadi Rp85 ribu/bulan, nantinya bisa-bisa pendapatan saya habis untuk membayar listrik saja belum lagi harus membiayai sekolah anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Ia menambahkan dari pendapatan sebesar Rp800 ribu itu, dirinya harus pandai-pandai mengatur keuangan karena setidaknya setiap bulan wajib membayar iuran uang sekolah anaknya yang masih duduk dibangku SMP sebesar Rp16 ribu, dan ongkos dan jajan anaknya sebesar Rp15 ribu/hari. "Kemudian sisa dari pendapatan mengojek digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari," tegasnya seraya mengaku informasi rencana kenaikan TDL itu, dirinya telah mendengar sejak jauh-jauh hari.

Hal senada diungkapkan oleh Hani Handayani, warga Salemba, Jakarta, yang menyebutkan dirinya sangat kecewa terhadap rencana kenaikan TDL tersebut karena jarak antara kenaikan harga BBM dengan kenaikan TDL berdekatan. "Kebijakan pemerintah tersebut sama ingin menyengsarakan rakyatnya sendiri, karena pemerintah tidak melihat kondisi sesungguhnya dimasyarakat saat ini," ungkap Hani yang merupakan karyawan swasta.

Ia menyebutkan dampak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu sudah terasa berat, seperti, naiknya tarif angkutan kota (angkot) kemudian akan ditambah dengan kenaikan tarif TDL.

Ny Iding, warga Perum Kartika, Kabupaten Bekasi, Jabar, mengatakan, dengan kenaikan tarif TDL sebesar puluhan persen tersebut, berarti pengeluarannya membayar listrik di rumahnya akan mengalami kenaikan dua kali lipat yang semula sekitar Rp250 ribu/bulan maka diperkirakan dapat mencapai Rp500 ribu/bulan. "Membayar listrik Rp250 ribu/bulan saja sudah dirasakan berat, apalagi harus membayar Rp500 ribu/bulan," ungkapnya.

<< back


artikel : Related Articles

 

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x