|
ilmu computer
Kenaikan TDL Sengsarakan Masyarakat
Rencana ilmu computer pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) dinilai hanya kebijakan yang bersifat parsial, karena implikasi dari kebijakan itu terlalu banyak membela kepentingan sektoral bukan secara keseluruhan.
"Kenaikan ilmu TDL itu pasti berdampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat, karena dampak inflasi yang ditimbulkannya. Inflasi yang saat ini berkisar 17-18 persen akan mencapai sekitar 22 persen, dengan adanya kenaikan TDL itu," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, DR Marzuki, DEA, Kamis (19/1), menanggapi rencana kenaikan TDL computer sekitar 18,4 hingga 48,3 persen.
Jika inflasi mencapai angka 22 persen, lanjutnya, itu berarti sama dengan memungut pajak pendapatan kepada masyarakat secara tidak langsung ilmu computer yang tentu saja akan menjadi beban bagi masyarakat. "Karena itu, kenaikan TDL justru akan semakin membebani masyarakat. Meskipun disadari bahwa pemerintah mengambil kebijakan itu mungkin karena didasari rencana kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun ini, namun hal itu dinilai tidak rasional, karena paling banter kenaikan gaji PNS itu hanya berkisar 10 persen," katanya.
Ia menambahkan, ilmu kenaikan gaji itu tidak sebanding dengan kenaikan sejumlah kebutuhan hidup masyarakat mulai dari harga BBM, sembako dan sebagainya. Dengan demikian, PNS saja akan terasa berat, computer apalagi masyarakat umum.
Sementara di sektor industri, juga akan kesulitan dengan adanya kenaikan TDL itu. "Kesulitan itu akan dirasakan utamanya oleh industri- industri berskala besar karena akan menambah biaya produksi yang buntut-buntutnya akan dibebankan kepada masyarakat (konsumen) dengan menaikkan harga penjualan," ungkap Marzuki.
Sebelumnya, Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan meminta pemerintah tidak menaikkan TDL tahun ini. Sebab, akan semakin menambah beban industri yang baru saja meningkat biaya produksinya akibat kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005. "TDL jangan juga naik tahun ini, karena beban industri sudah berat," ungkapnya.
Menurut dia, beban industri di dalam negeri saat ini saja sudah tinggi akibat kenaikan harga BBM dan upah pekerja (UMR). Oleh karena itu, kenaikan TDL berapa pun besarnya akan membuat industri di dalam negeri semakin terpuruk. "Biaya BBM, UMR, dan TDL merupakan komponen yang cukup besar yang bisa menaikkan biaya produksi dan mengurangi daya saing produk Indonesia khususnya makanan olahan, baik di pasar domestik maupun ekspor," katanya.
Hal senada dikemukan Dirjen Industri Agro dan Kimia (IAK) Depertemen Perindustrian Benny Wahyudi. ia mengaku sejauh ini belum mengetahui hitung-hitungan rencana kenaikan TDL. "Kalau boleh memilih, TDL tidak naik," ungkapnya.
Sedangkan pengamat ekonomi Faisal Basri berharap kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tidak lebih dari 30 persen, karena akan membebani masyarakat. "Tolong deh, kenaikan TDL tidak lebih dari itu, karena hanya akan memperberat beban masyarakat," kata Faisal.
Menurut Faisal, jika besaran kenaikan di atas 30 persen dan direalisasikan pemerintah per 1 Februari 2006, maka tingkat inflasi periode tersebut bisa melonjak 2-3 persen. "Itu baru dampak dari kenaikan listrik saja, belum lagi dampak ikutannya," kata Faisal.
<<
back
|