gadis 17 tahun

Kisah Penumpang JM Feri yang Selamat

Sebagian gadis 17 besar penumpang KMP Citra Mandala Bahari milik PT Jembatan Madura (JM) Feri yang tenggelam di Selat Pukuafu, perairan antara Pulau Timor dan Rote berhasil diselamatkan.

Seperti gadis diberitakan Pos Kupang, sebanyak 110 penumpang kapal naas itu berhasil diselamatkan. KRI Pandrong berhasil mengevakuasi 50 penumpang dan KRI Tongkol 17 tahun menyelamatkan 60 orang.

Diperkirakan, sekitar 50 penumpang kapal belum diketahui nasibnya. Pasalnya gadis 17 tahun tidak ada data pasti tentang penumpang kapal yang melayari Kupang-Rote pada Selasa (31/1) itu. Sesuai manifest, kapal itu memuat 124 penumpang, termasuk para ABK. Namun diduga ada penumpang yang tidak membeli tiket di loket resmi di darat sehingga tidak terdata dalam manifest kapal. Karena itu, Tim SAR akan terus melakukan pencarian.

Berikut gadis ini kisah para penumpang yang berhasil diselamatkan

Wadhi Adoe

"Istri dan anak saya berteriak minta tolong saat kapal tenggelam. Suasana gelap karena lampu kapal sudah padam. Saya pegang tangan istri saya Linda Lete dan anak saya Grevans yang masih berumur tiga tahun. Kami duduk di dek II. Kami ke Rote karena istri saya yang ada hamil tujuh bulan mau melahirkan di rumah orangtuanya di sana.

Saat tenggelam, saya tetap berusaha pegang tangan istri dan anak saya. Saya masih dengar mereka berteriak minta tolong kepada saya. Tapi saya tidak bisa buat apa-apa karena sudah dalam air. Akhirnya tangan anak saya dan isteri saya terlepas. Saya pasrah dan berusaha keluar dari dasar laut. Waktu itu hanya saya yang dapat pelampung, sedangkan istri dan anak saya tidak pakai apa-apa. Di atas permukaan laut saya berenang mengejar sebuah sekoci kapal sampai saya selamat.

Saya tidak tahu apakah istri dan anak saya selamat atau tidak. Saya hanya doa saja supaya mereka selamat, tapi... tidak tahulah, waktu itu gelombang besar sekali dan gelap. Saya dan istri saya sudah menikah empat tahun dan baru punya anak satu, Grevans itu. Saat ini istri saya sedang hamil. Di Kupang kami tinggal di RT 22/RW 09, Kelurahan Naikoten I.

Kalaupun istri dan anak saya mati, mudah-mudahan jenazah mereka ditemukan sehingga saya bisa lihat mereka sebelum dikubur. Memang, sebelum kami berangkat saya lihat istri saya mengemas semua pakaiannya dan pakaian anak kami ke dalam tas. Pakaian istri satu tas dan anak saya satu tas. Mungkin itu tandanya kami akan berpisah. Sebab, ketika akan berangkat keluarga sempat larang. Saya kehilangan segala-galanya. Pak tolong beritahu keluarga saya kalau mereka cari, bilang saya selamat."

Deby Mesakh

"Saya tidak tahu berenang, meskipun saya pakai pelampung. Untung saya dapat sepotong papan dan saya bertahan dengan papan itu. Saya pasrah karena stres, panik sejak kapal miring kemudian tenggelam. Saya sudah menyerah, pasrah saja namun papan itu akhirnya bisa menyelamatkan saya dari maut.

Saya ke Rote bersama teman saya Arni yang mau ikut tes CPNS di sana. Saya tinggal di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah dan saya sudah PNS di Kantor Bupati Rote Ndao. Semua barang saya hanyut kini hanya pakaian di badan. Tidak apa-apa, yang penting saya selamat."

Dani Benu

"Sekitar pukul setengah delapan malam, laut gelap dan gelombang besar menghantam kapal dari sebelah kanan. Kapal langsung miring ke kiri. Semua kendaraan yang ada di dek bawah bergeser ke kiri. Semua penumpang diminta pindah ke kanan untuk menjaga keseimbangan kapal agar tidak tenggelam. Saat kami semua pindah ke bagian kiri kapal itu, air laut sudah masuk ke kapal. Mobil-mobil yang ada di dalam kapal terbalik ke kiri kapal. Para penumpang panik dan kami semua berebutan pelampung untuk menyelamatkan diri. Saya dapat satu pelampung dan saya pakai.

Dalam suasana itu, lampu kapal padam sehingga membuat penumpang bertambah takut. Penumpang mulai cari selamat sendiri-sendiri. Sebab kapal terus miring ke kiri dan kami semua tenggelam bersama kapal. Waktu itu sekitar jam delapan lewat sepuluh menit.

Saya berusaha berenang ke permukaan air laut. Sampai di atas permukaan air laut, saya terus berenang. Sekitar 200 meter dari saya, saya lihat ada sekoci kapal. Saya berusaha berenang mendekati sekoci itu dan di atasnya sudah ada beberapa orang. Kami bertahan di sekoci sampai ditemukan oleh kapal Angkatan Laut. Saya tinggal di Labat (Kelurahan Bakunase-Kota Kupang, Red), mau ke Rote cari kerja."

Deri Soru

"Kejadiannya sangat singkat. Begitu lampu mati, kapal langsung terbalik. Terbalik begitu saja, tidak oleng lagi. Kami kaget sekali. Memang, waktu kapal belum terbalik, penumpang sudah dibagikan pelampung. Tetapi menurut saya, itu biasa. Tetapi tiba-tiba terbalik begitu saja. Bukan oleng ke kiri dan ke kanan dan karena berat kemudian terus terbalik, tetapi kejadiannya terbalik begitu saja. Saya penjual bawang di Pasar Kasih-Naikoten. Saya pergi ke Rote mau mengikuti acara penguburan keluarga saya di Rote Tii di Kecamatan Rote Barat Daya."

Mathias Tulasik
Saya pulang ke Rote karena saya tianggal di sana. Waktu kapal jalan dari pelabuhan Tenau sekitar jam empat sore, masih agak tenang. Tetapi ketika masuk di Lolok (Selat Pukuafu), ombak mulai besar dan air mulai masuk kapal. Saya ingat, lampu sempat mati tapi menyala lagi. Tiba-tiba gelombang besar pukul kapal dari kanan. Dua truk langsung terbalik ke kiri dan kapal langsung miring ke kiri.

Kita langsung di suruh berdiri di sebelah kanan kapal dan langsung dibagikan pelampung. Tapi kapal terus miring. Mesin kapal mati dan lampu juga mati. Kapal mulai tenggelam dengan posisi terbalik ke kiri. Jadi kita baku rampas lompat ikut sebelah kanan kapal. Rasa-rasanya cepat sekali kapal itu tenggelam dan kita sepertinya tiba-tiba saja sudah di laut. Kita terapung dari malam sampai pagi, sampai sekitar jam 09.00 WITA baru ada kapal perang yang datang untuk tolong kita."

David Ndolu

"Kejadian kapal tenggelam rasanya cepat sekali. Kita tidak siap. Memang waktu kapal keluar dari pelabuhan, laut agak bergelombang tetapi kapal jalan mulus. Tetapi situasi waktu kapal memasuki Selat Pukuafu, mulai goyang. Sampai ada ombak menghantam bagian kanan kapal sampai kapal miring. Waktu kapal miring ini, suasana semakin kacau, apalagi lampu sempat mati.

Kita dibagikan pelampung, tetapi kapal terus miring sampai tenggelam. Saya lompat ke laut dengan pelampung. Tetapi di laut gelap dan gelombang besar, jadi kita tidak tahu mau ke mana. Waktu hari sudah terang, baru kita lihat pulau. Tapi kita sudah capek untuk berenang sampai ada kapal yang datang. Saya punya badan sakit semua, seperti mau terlepas semua. Barang-barang saya hilang semua."

Benny Mulik

"Saya sama sekali tidak ada firasat apa-apa. Hanya mobil saya tidak diizinkan naik ke kapal. Jadi mobil saya dibawa kembali oleh keluarga saya. Sementara saya dan istri saya tetap dengan kapal ini. Ada teman yang peringatkan saya agar tidak usah naik kapal dulu karena gelombang besar, tetapi saya pikir biasa saja sampai kejadian ini.

Saya ingat, suasana kapal saat-saat mau tenggelam itu memang panik. Orang berteriak histeris dan minta tolong. Kita semua berupaya selamatkan diri. ABK juga kelihatan panik sampai saya menendang pintu lemari yang berisi pelampung, baru semua penumpang berebutan mengambil pelampung itu. Saat di laut barulah kita ditolong oleh kapal TNI AL tadi itu."

<< back


artikel : Related Articles

 

x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x